Galangan Kapal PUSKOPELRA di Mantuil – Banjarmasin

Penunjukkan untuk Merancang Galangan Kapal
Di tahun 1983, Departemen Perindustrian Sulawesi Selatan menugaskan LAPHAS ( Lembaga Afiliasi Penelitian Universitas Hasanuddin ) untuk merancang sebuah proyek galangan kapal berkapasitas 500 ton, yang cocok untuk Kapal Pinisi Motor di Banjarmasin. Karena telah berpengalaman dalam pembangunan Transversal Slipway kapasitas 500 ton Galangan Kapal Makassar ( Sekarang IKI ) th.1966-1970 , Dermaga Container pertama Indonesia di Pelabuhan III Timur Tanjung Priok dan beberapa proyek konstruksi lainnya, maka saya diminta untuk
merancang galangan kapal ini.

Departemen Koperasi pada saat itu, mendorong pengembangan armada rakyat seperti Perahu Pinisi untuk dilengkapi dengan mesin dan Puskopelra ditugaskan untuk membantu dalam hal pengadaan galangan kapal yang berkapasitas 500 ton dan sekaligus bisa menampung beberapa kapal sekaligus. Saat itu Perahu Layar Motor banyak dipakai untuk mengangkut kayu dan muatan antar pulau lainnya. Sejak tahun 1979, saya bekerja di Singapura dan Malaysia dan disaat tahun 1983 itu, saya sedang bekerja di Kerteh, Malaysia untuk proyek pipa gas dilepas pantai. Saat berlibur di Jakarta, saya menerima tugas itu.

Rancangan Alat Angkat Kapal yang Unik
Melihat lokasi yang ditentukan, dipinggir sungai yang tidak lebar dan keadaan tanah yang lunak, maka saya mengajukan usul sesuai pendahuluan diatas, yaitu mengkombinasikan keunggulan dari Besi Ulir dan Hydraulic Jack. Sistim unik ide saya ini, setahu saya belum pernah dipakai oleh Galangan Kapal dimanapun, saya namakan “Unique Sincro-Lift ”- meminjam nama sistim platform kapal angkat yang menggunakan banyak mesin winch.

Sitim unik yang saya usulkan ini terdiri dari 4 titik angkat, yang mengangkat Platform yang mempunyai 2 baris rel dan diatas rel ini ada kereta yang mengangkut kapal kedarat saat platform sudah sama tingginya dengan rel didarat. Rel didarat ini selanjutnya sama tinggi dengan rel diatas
kereta transversal dan kereta transversal ini akan ditarik ke “ Side Tracks” yang masih kosong. Dengan demikian dapat didok banyak kapal pada saat yang sama, sesuai dengan banyaknya “ Side Tracks “ yang dibangun.

Besi As Ulir dan Hydraulic Jack

Kombinasi besi ulir dan Hydraulic Jack

Setiap titik angkat terdiri dari sebuah pile cap dengan 4 batang tiang pancang dan 2 batang besi ulir besar ( panjang 9m dan diameter 5 inch yang dibubut untuk ulir ), 4 buah Mur dan sebuah “Hydraulic Jack“ yang berkapasitas 200 ton. Tinggi operasi aman dari piston adalah 20cm setiap siklus. Oleh karena sistim angkat ini belum pernah dilakukan sebelumnya, maka saya membuat sebuah maket dan dipresentasikan di Ditjen Perhubungan Laut dan berhasil mendapatkan persetujuan. Kemudian dengan gambar, perhitungan dan spesifikasi yang cukup sederhana, dilakukan tender di Banjarmasin yang diikuti sekitar 6 kontraktor nasional. Tender ini dimenangkan oleh kontraktor
BUMN.

Dalam pembangunannya, pengawasan diserahkan kepada team dari Laphas yang bekerja sama dengan dosen fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Saya mengikuti kemajuan proyek ini dari jauh, karena saat itu saya masih bertugas di Kerteh, Trengganu, Malaysia. Dengan hati berdebar debar saya menunggu kabar saat proyek ini selesai dan siap untuk melakukan pengangkatan kapal yang pertama, yang ternyata berhasil dengan sangat baik. Selanjutnya saya masih menguatirkan tentang ketahanan sistim ini dalam jangka panjang. Di tahun
1996 disaat sudah 12 tahun beroperasi, saya mendapatkan foto yang memperlihatkan adanya beberapa kapal diatas darat yang sedang diperbaiki, malah ada satu kapal dari Perancis.

Baru baru ini, pada tanggal 4 Maret 2011, saya berkunjung langsung ke Galangan tersebut, meminta izin kepada Bapak Amdul Madjid sebagai Manager Galangan dan melihat langsung bahwa ada 5 Tug boat dan 2 Kapal Kayu yang sedang didok dan 1 diturunkan pagi itu. Saya sangat senang dengan keadaan Galangan yang telah bertahan sampai saat in 27 tahun, sudah memiliki kantor yang bagus dan alat bubut yang panjangnya 12m. Kapal kapal yang dilayani tahun tahun terakhir ini lebh banyak Tug Boat besar yang dipakai oleh perusahaan asing penambang batu bara. Kapal Layar Motor banyak berkurang.

Cara Pengangkatan dan Penurunan Kapal

1. Pengangkatan Kapal.

  • Platform dengan “kereta atas” diatasnya, diturunkan kebawah air sampai kedalaman yang cukup untuk kapal masuk dan duduk diatas “kereta atas”. As ulir dalam keadaan seragam turunnya sehingga platform diyakini dalam keadaan rata.
  • Setelah kapal di stabil kan dengan penahan samping dan ganjalan kayu, maka “ Hydraulic Jack” yang saat itu dalam keadaan turun penuh dan mur diatas dikencangkan, mulai dinaikkan secara bersama-sama sampai ketinggian 20cm, pada saat yang bersamaan mur di bawah dikencangkan.
  • Hydraulic Jack diturunkan sehingga Beam diatas juga ikut turun sampai “kursi” nya duduk diatas Mur bawah dan diikuti dengan pengencangan Mur diatas.
  • Kemudian siklus ini diteruskan sampai permukaan atas dari rel ujung depan sudah rata dengan rel diatas muka dek beton didepan, lalu kedua rel ini dikunci agar pada saat kereta atas dan kapal sedang lewat, tidak terjadi lendutan.
  • Kereta atas dengan kapal ditarik dengan Winch kedepan dan keatas kereta bawah dan selanjutnya dibawa ke Side Track yang kosong.

2. Penurunan Kapal.

  • Kereta atas dan kapal dikembalikan keatas Platform angkat, lalu Mur diatas dilonggarkan sampai setinggi 20cm dan Hydraulic Jack dinaikkan sampai mengangkat platform sedikit dan Mur dibawah dilonggarkan 20cm rata
  • Hydraulic Jack menurunkan secara perlahan sampai bangku bersama Beam sudah duduk di atas Mur bawah, berarti sudah turun 20cm
  • Demikian seterusnya sampai kapal terapung dan dikeluarkan.
  • Selanjutnya Platform yang sudah turun langsung digunakan untuk menaikkan kapal lain atau diangkat keatas dalam keadaan kosong untuk dibersihkan dan dipelihara dari kemungkinan karatan.

Kesimpulan

Setelah beroperasi lebih dari seperempat abad, maka terbukti bahwa sistim ini dapat diandalkan dan malah dapat dikembangkan menjadi galangan dengan kapasitas yang lebih besar dengan membangun 8 , 12 sampai 16 titik angkat dan memperlebar Platform angkatnya. Kemungkinan penyempurnaan adalah mengembangkan koordinasi antara pergerakan Hydraulic Jack dan pemutaran Mur yang bisa dilakukan dengan otomatis. Untuk Galangan dengan side track yang banyak, saya yakin sistim ini lebih murah.

Apresiasi
Beberapa hari setelah kembali ke Jakarta, saya kekantor pusat Puskopelra di jalan Gunung Sahari 84B untuk menemui Bapak Muchdar Abdullah untuk meminta izin menulis tentang galangan kapal Puskopelra ini. Terima kasih atas izinnya.

 

-BU

6 responses to “Galangan Kapal PUSKOPELRA di Mantuil – Banjarmasin

  1. System shipliftnya sangat menarik, karena dari beberapa pengalaman, shiplift dengan system hydrolic agak sering bermasalah apa lagi jika lokasinya di tepi sungai karena pendangkalan yang tinggi sehingga platform tertahan lumpur dan alat hydrolic macet.
    Sekarang telah banyak diterapkan docking dengan menggunakan airbag yang jauh lebih sederhana dan sudah banyak dipakai di banyak tempat di Indonesia khususnya di Kalimantan Timur. Mungkin bisa dibandingkan efisiensi dan efektifitasnya dari kedua system tersebut mana yang lebih cocok untuk kondisi lokasi tertentu.

    • Hydraulic Jack nya tidak pernah menahan beban dalam waktu yang lama, yang menahan beban adalah besi ulir itu. Jadi Hydraulic Jack nya bisa bertahan sampai 28 tahun dan tetap berfungsi dengan baik. Tentunya Seal nya pernah diganti juga sih.

    • Airbag biasanya dipakai untuk peluncuran kapal, bukan untuk menaikkan kapal. Tentu ada yang melakukan juga tapi terlalu dipaksa dan mudah merusakkan airbag nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s